DEPOK (17/07/2026) – Langkah strategis diambil Pemerintah Indonesia dalam mengamankan posisi tawar di kancah teknologi global dengan resmi bergabung ke dalam Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Artifisial Global (World Artificial Intelligence Cooperation Organization atau WAICO). Keikutsertaan aktif negara dalam pakta teknologi internasional inisiasi Tiongkok tersebut ditandai dengan penandatanganan piagam pendirian pada Kamis, 16 Juni 2026, oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Langkah bersejarah ini diambil atas instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto pasca-gelaran Rapat Terbatas pada 13 Juli sebelumnya, guna memastikan Indonesia tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan aktor aktif yang mampu mengarahkan pemanfaatan kecerdasan artifisial demi akselerasi pembangunan berkelanjutan PBB dan kesejahteraan publik global.
Penandatanganan dokumen pendirian institusi multilateral independen yang memiliki personalitas hukum internasional ini dilangsungkan di Shanghai dengan melibatkan 29 negara perintis. Barisan tokoh dunia tampak hadir mengawal momentum tersebut, termasuk Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Kecerdasan Artifisial dan Pengembangan Digital Kazakhstan Zhaslan Madiyev, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Laos Thongsavanh Phomvihane, Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan Mohammad Ishaq Dar, Wakil Kepala Administrasi Kepresidenan Rusia Maxim Oreshkin, serta delegasi diplomatik dari Brasil dan Afrika Selatan, dengan disaksikan langsung oleh Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Menko Airlangga menegaskan bahwa keterlibatan langsung Indonesia dalam arsitektur tata kelola global ini krusial untuk menjamin pengembangan kecerdasan buatan yang aman, adil, beretika, dan sepenuhnya bersandar pada prinsip kemanusiaan yang termaktub dalam Piagam PBB.
Berdasarkan draf kesepakatan formal yang disepakati, seluruh negara penandatangan otomatis didaulat sebagai anggota pendiri (Founding Member) yang berkomitmen penuh memosisikan kemanusiaan sebagai episentrum utama (human-centric approach) dari segala bentuk regulasi AI masa depan. Bagi Indonesia, keanggotaan ini menjadi instrumen penting untuk menyuarakan kepentingan negara-negara berkembang guna mengikis jurang kesenjangan penguasaan teknologi digital (bridging the AI divide). Sebelum prosesi penandatanganan berlangsung, diplomasi tingkat tinggi juga sempat dijajaki lewat pertemuan bilateral terpisah antara delegasi Indonesia dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping serta Sekretaris Jenderal PBB António Guterres guna menyamakan persepsi terkait standardisasi kecerdasan buatan yang aman (safe), tepercaya (trustworthy), dan beretika (ethical).
Inisiasi pembentukan WAICO ini dilaksanakan secara paralel dengan agenda akbar World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, sebuah konferensi pionir yang konsisten digelar sejak tahun 2018 sebagai wadah regulator dan pelaku industri mematangkan kemitraan global. Pada edisi tahun 2026, eksibisi raksasa ini dihelat di tiga klaster lokasi berbeda di Shanghai dengan menghadirkan lebih dari 1.400 pembicara ahli, termasuk sembilan ilmuwan peraih penghargaan Nobel dan Turing Award. Tidak kurang dari 1.100 korporasi teknologi global berkumpul memamerkan sekitar 3.000 portofolio inovasi mutakhir mereka, di mana sekitar 300 produk di antaranya melakukan debut peluncuran global perdana secara eksklusif dalam ajang ini.
Dinamika pameran tersebut turut diperkuat oleh kehadiran raksasa teknologi Tiongkok mulai dari Huawei, Alibaba, hingga Baidu, bersandingan dengan korporasi spesialis kecerdasan buatan terkemuka seperti MiniMax, StepFun, dan Zhipu AI. Di lini mekanisasi dan robotika, panggung WAIC 2026 didominasi oleh unjuk gigi dari Unitree, Fourier Intelligence, AgiBot, serta perusahaan rintisan potensial seperti Zero Degree. Sementara di ceruk perangkat keras dan pemrosesan data, inovasi cip 3D pertama di kelasnya dipamerkan oleh Oriental Computing, didampingi oleh produsen semikonduktor andalan lainnya seperti Muxi, Tianshu Zhixin, dan Moore Threads. Momentum global ini sekaligus mengukuhkan tahun 2026 sebagai gerbang transisi menuju era aplikasi Agen AI (AI Agent) mandiri dan penetrasi embodied AI berskala industri, di mana kecerdasan buatan tidak lagi terbatas pada ruang obrolan virtual melainkan telah mewujud secara fisik dalam rupa robot humanoid yang mulai aktif bekerja di lantai-lantai produksi dan logistik global.




































