
DEPOK (25/08/2026) – Pernikahan tidak cukup hanya dilandasi oleh komitmen tinggal dalam satu atap, tetapi membutuhkan keterhubungan emosional yang erat agar suami dan istri merasa didengar, dihargai, serta nyaman menjadi diri sendiri. Ketika ikatan emosional tersebut mengendur, rumah tangga rentan mengalami kondisi disconnection atau kerenggangan, di mana pasangan hidup bersama namun secara batin saling berjauhan. Persoalan ini menjadi sorotan penceramah Ustadz Bendri Jaisyurrahman dalam Kajian Interaktif yang digelar di Masjid Al Huda, Cimanggis, Depok, pada Minggu (25/8/2026), yang mengusung topik pentingnya komunikasi sehat suami istri bagi kesehatan mental anak.
Dalam pemaparannya, Ustadz Bendri menguraikan sejumlah gejala utama saat disconnection mulai menggerogoti keharmonisan rumah tangga. Indikasi awal ditandai oleh memudarnya komunikasi harian, di mana percakapan bermakna digantikan oleh kesibukan masing-masing atau respons yang enggan. Padahal, obrolan ringan mengenai hal-hal kecil sepanjang hari sangat krusial untuk memelihara kedekatan. Tanda selanjutnya adalah meningkatnya sensitivitas, di mana ucapan netral mudah disalahartikan dan memicu konflik akibat hilangnya fondasi koneksi emosional. Selain itu, pudar rasa peduli dan menipisnya momen untuk tersenyum serta tertawa bersama turut menjadi penanda bahwa suasana rumah tangga mulai terasa kaku dan gersang.
Guna mengatasi kondisi tersebut, Ustadz Bendri menekankan pentingnya introspeksi diri ketimbang sibuk menuntut atau mencari kesalahan pasangan. Pasangan disarankan menerapkan prinsip connection before correction, yaitu memprioritaskan pemulihan rasa aman dan ikatan kasih sayang sebelum menyampaikan kritik atau teguran. Nasihat yang disampaikan saat hubungan emosional sedang renggang kerap dianggap sebagai serangan, sedangkan hati yang merasa dicintai akan jauh lebih terbuka menerima masukan. Mengingat kerenggangan terjadi secara bertahap, upaya merawat rumah tangga harus dilakukan secara konsisten melalui langkah-langkah sederhana, seperti kembali membuka ruang dialog, mendengarkan tanpa menghakimi, serta menghadirkan kembali kepedulian di antara suami dan istri.





































