Diplomasi Selat Hormuz: RI dan Kekuatan Global Lobi Tehran Demi Keamanan Jalur Energi

Depok (14/03/2026) – Eskalasi konflik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu gelombang diplomasi intensif dari berbagai negara. Indonesia, Prancis, hingga India kini dilaporkan melakukan pendekatan langsung ke Tehran guna mengamankan perlintasan kapal-kapal mereka di jalur perdagangan minyak paling vital di dunia tersebut.

Langkah ini diambil setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memperketat kendali di selat tersebut sebagai respons atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.

Pergeseran Kiblat Diplomasi

Trita Parsi, pendiri Quincy Institute for Responsible Statecraft, menyoroti fenomena unik di mana negara-negara kunci kini lebih memilih bernegosiasi langsung dengan Iran dibandingkan meminta bantuan Washington.

“Ini mencerminkan dengan sangat jelas siapa yang memegang kendali situasi di sana. Negara-negara Eropa seperti Prancis dan Italia, serta India, berbicara langsung ke Iran untuk menemukan jalur aman bagi kapal mereka,” ujar Parsi.

Indonesia Upayakan Pembebasan Kapal Pertamina

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengonfirmasi tengah melakukan pendekatan diplomatik tingkat tinggi. Langkah ini diambil menyusul tertahannya dua kapal milik Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, di kawasan tersebut sejak pekan lalu.

Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menyatakan bahwa komunikasi intensif terus dilakukan demi memastikan keselamatan aset nasional. “Kami melakukan pendekatan diplomatik intensif dengan otoritas Iran agar kapal kita dapat melewati Selat Hormuz dengan aman,” ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (13/3).

Pihak PIS memastikan bahwa meskipun kedua kapal masih menunggu izin keluar, kondisi kru dan kargo dalam keadaan aman, serta pasokan energi nasional tetap terjaga.

India dan Prancis: Antara Kesepakatan dan Koalisi

India tampaknya menjadi negara yang paling awal mencapai titik terang. Perdana Menteri Narendra Modi dilaporkan telah berkomunikasi langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Hasilnya, dua kapal tanker LPG India, Shivalik dan Nanda Devi, diizinkan melintas dengan pengawalan militer.

Di sisi lain, Prancis tengah menggalang kekuatan dengan negara-negara Eropa dan Asia untuk membentuk koalisi pengamanan jalur perdagangan. Meski pengerahan pasukan fisik belum memungkinkan, Paris fokus pada jalur diplomasi sebelum menerapkan rencana pengawalan kapal tanker melewati selat tersebut.

Latar Belakang Krisis

Ketegangan di Selat Hormuz memuncak setelah serangan balasan Iran terhadap aset militer AS dan Israel. Sebagai senjata ekonomi, Iran menutup akses selat yang menjadi urat nadi distribusi minyak global, menyebabkan harga energi dunia meroket. Pihak IRGC telah mengeluarkan peringatan keras bahwa kapal mana pun yang mengabaikan prosedur keamanan di selat tersebut akan dijadikan target militer.

Komentar

komentar

BAGIKAN