Depok (23/04/2026) – Kota Depok yang kini dikenal sebagai kota penyangga metropolitan yang dinamis ternyata menyimpan lapisan sejarah yang sangat panjang. Berdasarkan dokumen sejarah yang dihimpun, perjalanan Depok terbagi dalam tujuh fase krusial, dimulai dari zaman prasejarah hingga peresmiannya sebagai kota otonom.
1. Akar Prasejarah: Hunian Sejak Zaman Batu
Jejak kehidupan di wilayah Depok terdeteksi sejak zaman Megalitikum dan Neolitikum. Penemuan benda bersejarah seperti Menhir “Gagang Golok”, Punden Berundak “Sumur Bandung”, serta kapak persegi dan beliung batu membuktikan bahwa wilayah ini telah menjadi pusat aktivitas manusia jauh sebelum sistem kenegaraan modern terbentuk.
2. Era Kerajaan: Front Terdepan Pajajaran
Pada akhir abad ke-15, di bawah pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), Depok berada dalam lingkaran pengaruh Kerajaan Pajajaran. Berlokasi strategis di sepanjang Sungai Ciliwung dan hanya berjarak 13 kilometer dari Kerajaan Muaraberes, Depok difungsikan sebagai front terdepan pertahanan militer saat menghadapi pasukan Jayakarta.
3. Pengaruh Islam dan Perlawanan VOC
Memasuki tahun 1527, pengaruh Islam mulai merambah Depok. Wilayah ini berkembang pesat seiring perlawanan Kesultanan Banten terhadap VOC di Batavia. Kawasan Beji dan Sawangan menjadi saksi bisu pergerakan tentara Banten. Nama “Depok” sendiri diyakini bersumber dari kata “Padepokan”, merujuk pada tempat latihan bela diri dan pendidikan agama di kawasan Kramat Beji yang melegenda.
4. Masa Kolonial dan Warisan Cornelis Chastelein
Dominasi VOC secara formal dimulai pada 17 April 1684 lewat perjanjian dengan Sultan Haji dari Banten. Namun, titik balik besar terjadi pada 15 Oktober 1695 saat Cornelis Chastelein membeli lahan seluas 1.244 hektar di wilayah Depok. Chastelein kemudian menata masyarakat Kristen Protestan (yang dikenal dengan sebutan 12 marga/fam). Setelah kematiannya, wilayah ini dikelola secara mandiri oleh para ahli warisnya dalam bentuk pemerintahan sipil bernama Gemeente Bestur Depok yang dipimpin oleh seorang Presiden.
5. Masa Penjajahan Jepang dan Gema Kemerdekaan
Kedatangan tentara Jepang pada Maret 1942 mengakhiri kekuasaan tuan tanah di Depok. Pasca-Proklamasi 17 Agustus 1945, semangat patriotisme membara di jiwa pemuda Depok. Pada September 1945, tokoh pejuang Tole Iskandar bersama eks tentara HEIHO dan PETA membentuk Barisan Keamanan Depok (BKD) sebagai cikal bakal perlawanan mempertahankan kemerdekaan.
6. Transformasi Menuju Kota Administratif
Pertumbuhan Depok melesat tajam pada dekade 70-an dengan dibangunnya perumahan nasional (Perumnas) dan kampus Universitas Indonesia (UI). Guna mempercepat pelayanan publik, pemerintah membentuk Kota Administratif Depok melalui PP No. 43 Tahun 1981 yang diresmikan pada 18 Maret 1982. Saat itu, Depok mencakup tiga kecamatan: Pancoran Mas, Sukmajaya, dan Beji.
7. Kelahiran Kota Depok Modern
Puncak dari perjalanan sejarah ini terjadi pada akhir milenium kedua. Berdasarkan UU No. 15 Tahun 1999, Depok resmi menyandang status Kotamadya Daerah Tingkat II. Peresmiannya dilakukan pada 27 April 1999, berbarengan dengan pelantikan Drs. H. Badrul Kamal sebagai Penjabat Walikotamadya. Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Depok hingga saat ini.
Kini, dari yang semula hanya terdiri dari beberapa desa, Depok telah berkembang menjadi kota dengan 11 kecamatan dan 63 kelurahan, terus berupaya mendekatkan pelayanan kepada masyarakat selaras dengan semangat pembentukannya.







































