Depok (02/04/2026) – Pemerintah Kota Depok bersama Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mulai memanaskan mesin menjelang Sensus Ekonomi (SE) 2026. Penekanan utama dalam hajat nasional ini adalah transparansi data dari para pelaku usaha, yang menjadi prasyarat mutlak bagi akurasi potret struktur ekonomi daerah maupun nasional.
Wali Kota Depok, Supian Suri, mengirimkan pesan kuat kepada seluruh entitas bisnis—dari korporasi raksasa hingga unit usaha rumah tangga—untuk menanggalkan sikap tertutup terhadap pendataan.
Data Akurat, Kebijakan Tepat
Supian menegaskan bahwa keterbukaan informasi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan investasi bagi ekosistem bisnis itu sendiri. Data yang presisi akan menjadi kompas bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang bersifat targeted (tepat sasaran).
“Kami mengimbau para pelaku usaha untuk membuka diri dan menyampaikan data informasi usahanya. Ini demi kebaikan bersama, termasuk keberlanjutan bisnis para pelaku usaha di Depok,” ujar Supian, Kamis (02/04/26).
Garansi Kerahasiaan di Tengah Target Pertumbuhan
Senada dengan Wali Kota, Kepala BPS Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menyoroti urgensi keterbukaan ini dalam konteks target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen. Tanpa data yang jernih (clear), strategi pencapaian target tersebut dipastikan akan bias.
Margaretha memberikan jaminan penuh bahwa data sensitif perusahaan tidak akan bocor ke pihak luar atau digunakan untuk kepentingan non-statistik.
-
Keamanan Data: Dijamin kerahasiaannya oleh undang-undang.
-
Independensi: Data murni untuk kebutuhan statistik, tidak terhubung dengan otoritas pajak atau lembaga pengawas lainnya.
Membidik Sektor Informal dan Ekonomi Digital
Depok dipandang sebagai salah satu lumbung potensi ekonomi baru di Jawa Barat, terutama pada dua sektor yang tumbuh eksponensial:
-
Ekonomi Digital & Informal: Menjamurnya UMKM digital yang bergerak secara organik di wilayah sub-urban.
-
Sektor Jasa & Konsumsi: Pertumbuhan kuat pada sektor transportasi serta bisnis makanan dan minuman (kafe/kuliner) yang menjadi ciri khas ekonomi perkotaan Depok.
“Jawa Barat menargetkan pendataan sekitar 5,5 juta pelaku usaha. Di Depok, potensi sektor transportasi dan kafe berkembang sangat pesat. Hasil sensus ini akan memperlihatkan di mana peluang yang bisa dimaksimalkan ke depan,” jelas Margaretha.
Output Strategis Sensus Ekonomi 2026
Sensus ini diproyeksikan akan menghasilkan roadmap ekonomi yang komprehensif, meliputi:
-
Pemetaan Struktur Ekonomi: Melihat kontribusi riil setiap sektor terhadap PDRB Kota Depok.
-
Identifikasi UMKM: Mendata jumlah pasti sektor informal untuk program penguatan di masa depan.
-
Akselerasi Pertumbuhan: Menjadi basis data bagi investor dan pemerintah dalam menentukan arah ekspansi ekonomi nasional.
Melalui kolaborasi antara aparatur wilayah (RT-RW) dan kesadaran kolektif pelaku usaha, Sensus Ekonomi 2026 diharapkan menjadi titik balik bagi Depok untuk mengonversi potensi digitalnya menjadi pertumbuhan ekonomi yang terukur dan berkelanjutan.




































