DEPOK (09/06/2026) – Bagi Hagia Sofia, seorang siswi yang kini duduk di bangku kelas 7F SMP Gelora, institusi pendidikan tidak sekadar menjadi ruang formalitas untuk menuntut ilmu akademik semata. Di sekolah inilah ia berhasil menemukan ekosistem belajar yang kondusif, nyaman, sekaligus menjadi kawah candradimuka dalam mengasah potensi diri dan memperkokoh karakter sebagai bekal menyongsong masa depan. Remaja yang berdomisili di wilayah Kelurahan Grogol ini konsisten menunjukkan dinamika semangat belajar yang tinggi dalam melakoni aktivitas pembelajaran harian. Hagia mengaku atmosfer positif yang diembuskan di lingkungan SMP Gelora menjadi faktor stimulasi utama yang membuatnya merasa betah, bahagia, serta dilingkupi oleh jalinan pertemanan yang sehat serta jajaran tenaga pendidik yang suportif untuk membantunya mendulang berbagai capaian prestasi.
Eksistensi SMP Gelora sendiri merupakan bagian integral dari jejaring lembaga pendidikan yang terafiliasi dalam Program Sekolah Swasta Gratis (RSSG) besutan Pemerintah Kota (Pemkot) Depok, sebuah intervensi kebijakan yang dirancang untuk memperluas aksesibilitas bagi anak-anak dari berbagai latar belakang ekonomi agar bisa mengecap pendidikan bermutu. Hagia tumbuh dalam struktur keluarga yang sederhana, di mana sang ibu mendedikasikan pekerjaannya sebagai petugas kebersihan jalan atau pesapon, sementara sang ayah mengais rezeki sebagai pengemudi roda empat di sebuah korporasi di Jakarta. Sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, Hagia sepenuhnya menginsafi pentingnya bekal ilmu untuk mengubah taraf kehidupan keluarganya. Oleh karena itu, intervensi program sekolah gratis ini dirasakan sebagai berkah yang sangat berharga karena mampu mengeliminasi kendala finansial orang tua tanpa mengurangi esensi mutu pengajaran yang diterimanya.
Di samping pemenuhan kurikulum reguler, sekolah secara konsisten menerapkan skema pembiasaan positif harian yang berdampak langsung pada kedisiplinan dan rasa tanggung jawab para siswa. Salah satu aktivitas unggulan yang paling diminati Hagia adalah agenda tilawah Al-Qur’an rutin setiap hari, yang dinilai efektif dalam memacu kelancaran membaca kitab suci sekaligus mengonstruksi pondasi nilai religius dalam sanubari siswa. Terkait akses mobilitas menuju lokasi sekolah, radius perjalanan yang relatif dekat membuat Hagia terbiasa berangkat dengan diantar, namun memilih untuk berjalan kaki saat pulang sekolah demi menikmati suasana yang santai dan nyaman. Menutup kisahnya, ia melayangkan rasa syukur yang mendalam atas pilihan sekolah yang ditentukan oleh kedua orang tuanya tersebut, karena di institusi ini ia memperoleh paket pengalaman belajar yang komprehensif yang menyeimbangkan antara aspek kecerdasan intelektual dan kematangan spiritual.








































