DEPOK (01/07/2026) – Ikhtiar dalam memproteksi silsilah peradaban literasi Nusantara kini memasuki babak baru lewat rancangan diplomasi kebudayaan di panggung global. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan komitmennya untuk menggalang sinergi makro yang melibatkan elemen pemerintah, akademisi, komunitas pegiat, hingga pemangku kepentingan guna memperkuat sistem pelestarian Aksara Kawi. Langkah strategis ini diarahkan pada pematangan ekosistem digital berbasis aksara kuno tersebut, sekaligus meretas jalan untuk mendaftarkannya ke dalam daftar warisan budaya dunia di bawah naungan UNESCO. Apresiasi mendalam dilayangkan oleh Fadli Zon saat menyambut kedatangan Ketua DPD RI La Nyalla Mahmud Mattalitti bersama delegasi Yayasan Satria Lelaku Nusantara di Jakarta pada Selasa, 30 Juni 2026 kemarin, di mana ia menegaskan bahwa penguatan aspek bahasa dan aksara merupakan pilar fundamental dalam agenda pemajuan kebudayaan nasional.
Dalam pertemuan tersebut, Fadli membeberkan bahwa kementeriannya tengah menimbang dua skema taktis guna memuluskan status Aksara Kawi di level internasional. Opsi pertama adalah melalui mekanisme pengajuan bersama (joint nomination) dengan negara tetangga di Asia Tenggara, mengingat berdasarkan bukti empiris filologi, jejak penggunaan manuskrip Aksara Kawi juga ditemukan membentang hingga ke wilayah Filipina, Thailand bagian selatan, serta Kamboja bagian selatan. Selain skema multilateral tersebut, opsi perlindungan darurat (urgent safeguarding) turut menjadi alternatif rasional mengingat populasi penutur dan pembaca aksara ini kian tergerus zaman sehingga membutuhkan intervensi penyelamatan yang cepat dari otoritas global. Guna memperkuat basis dokumentasi literasi domestik, Fadli mendorong proyek besar penyusunan ensiklopedia aksara Nusantara, serta memastikan dukungan penuh kementerian terhadap penyelenggaraan Kongres Aksara Kawi pada tahun 2027 mendatang sebagai panggung konsolidasi para pakar.
Gayung bersambut, komitmen pelestarian ini langsung direspons konkret oleh pihak eksternal melalui digitalisasi kebudayaan. Pembina Yayasan Satria Lelaku Nusantara, La Nyalla Mahmud Mattalitti, mengungkapkan rencana strategis institusinya untuk membangun Portal Aksara Kawi yang dirancang sebagai wadah komunal digital demi menyatukan pelbagai faksi komunitas dan memperluas daya jangkau edukasi aksara di era modern. Senada dengan hal itu, Pemimpin Redaksi Portal Aksara Kawi, Rachmad Setiawan, memaparkan bahwa platform digital tersebut sengaja diarsiteki untuk mengemban fungsi ganda, yakni sebagai pusat dokumentasi data (pangkalan data) sekaligus simpul integrasi yang mempertemukan akademisi, pembuat kebijakan, dan pelaku industri kreatif. Ke depan, hilirisasi dari portal digital ini diproyeksikan mampu menstimulus pertumbuhan ekonomi mikro melalui pengembangan UMKM berbasis visual aksara kuno, mendongkrak kajian manuskrip orisinal, mengawal kaderisasi penelaah sastra, serta menjadi pilar utama dalam ekosistem digitalisasi kebudayaan nasional yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.





































