Dunia Pendidikan Negeri Sombrero Jadi Jembatan Kultural, Colegio Indonesia Rawat Kultur Merah Putih di Meksiko

DEPOK (18/06/2026) – Nuansa patriotisme dan kekayaan kultural Nusantara secara mengejutkan menggema kuat di belahan bumi bagian barat, tepatnya di dalam Gedung Centro Cultural Mexiquense Bicentenario, Texcoco de Mora, kawasan yang terletak sekitar 25 kilometer dari pusat ibu kota Mexico City. Ruang panggung budaya tersebut mendadak riuh dan didominasi oleh kibaran warna merah putih berkat antusiasme ratusan anak-anak usia dini hingga tingkat menengah pertama yang dengan lincah menari serta melantunkan lagu-lagu bertema Indonesia. Gelaran bertajuk Indofest 2026 yang dihelat pada Senin, 15 Juni 2026 siang waktu setempat ini uniknya bukan diinisiasi oleh korps diplomatik Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) maupun komunitas diaspora, melainkan lahir murni dari kreativitas sebuah lembaga pendidikan swasta lokal bernama Colegio Indonesia.

Institusi pendidikan independen yang beroperasi di kawasan Monte Rico 67, Parque Residencial Coacalco ini didirikan sejak tahun 1979 oleh seorang tokoh pendidik lokal Meksiko, Isabel Olguin Romo. Sejarah mencatat, Isabel terinspirasi mendirikan sekolah swadaya ini pasca-menyelesaikan masa baktinya sebagai pengajar di Escuela de la Republica Indonesia di Tacuba, sebuah sekolah legendaris yang diresmikan langsung oleh Presiden pertama RI, Soekarno, pada Agustus 1959 silam. Di tengah keberadaan dua sekolah negeri bermerek Indonesia lainnya di kawasan Tacuba dan Itzapalapa, Colegio Indonesia menancapkan posisinya sebagai satu-satunya sekolah swasta mandiri yang secara konsisten menyisipkan kurikulum berwawasan Nusantara dan rutin menerjunkan siswanya untuk mengikuti upacara kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus di KBRI Meksiko.

Guna memperkuat fungsinya sebagai perekat hubungan bilateral dua negara yang terpisah lintas benua, lembaga ini menerapkan pola edukasi modern yang unik dengan meniadakan sistem pekerjaan rumah (homework) demi mengoptimalkan tumbuh kembang kreativitas para murid. Dalam kesehariannya, selain mengadopsi Bahasa Spanyol dan Inggris sebagai bahasa pengantar utama, pihak sekolah juga memasukkan Bahasa Indonesia ke dalam daftar materi pelajaran pilihan. Direktur Jenderal Colegio Indonesia Cuacalco, Joxtal Escamilla, mengungkapkan bahwa persiapan pagelaran Indofest ini telah memakan waktu selama lima bulan, di mana ke depan pihaknya membidik kolaborasi yang lebih intensif dengan otoritas perwakilan Indonesia agar dapat mementaskan kembali aneka kesenian tradisional orisinal di lingkungan sekolah.

Apresiasi tinggi dan rasa takjub pun dilayangkan langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Meksiko, Toferry Primanda Soetikno, yang hadir menyaksikan langsung kebolehan para siswa Meksiko tersebut. Dubes Toferry memandang momentum kultural ini sebagai instrumen strategis untuk mendekatkan pemahaman sosiologis antar-generasi muda kedua negara yang dinilai memiliki banyak kesamaan karakter, termasuk dalam aspek kegemaran kolektif terhadap olahraga sepak bola. Sebagai langkah konkret penguatan jalinan kemitraan ke depan, pihak KBRI merancang agenda undangan bagi para siswa Colegio Indonesia untuk mengeksplorasi museum di Pusat Kebudayaan Indonesia yang baru diresmikan di Mexico City, sekaligus membuka akses kursus tari tradisional dan kelas pendalaman Bahasa Indonesia demi memangkas jarak geografis yang jauh menjadi kedekatan emosional yang erat.

Komentar

komentar

BAGIKAN