DEPOK (02/07/2026) – Diplomasi agraris Indonesia di kancah global kian menancapkan taji lewat pembaruan komitmen bilateral di kawasan Afrika. Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Gambia secara resmi mengoperasikan kembali Pusat Pelatihan Pertanian Petani Pedesaan atau Agricultural Rural Farmers Training Center (ARFTC) yang berlokasi di Jenoi, Gambia. Langkah strategis ini ditempuh sebagai bagian dari akselerasi arsitektur ketahanan pangan serta penguatan kapabilitas sektor pertanian di kawasan Afrika Barat. Peresmian simbolis tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir bersama Menteri Luar Negeri Gambia Sering Modou Njie di sela-sela agenda Sidang Komisi Bersama ke-2 Indonesia-Gambia yang dihelat di Banjul pada Rabu, 1 Juli 2026 kemarin.
Melalui pernyataan tertulis Kementerian Luar Negeri RI yang diterima di Jakarta pada Kamis, Arrmanatha menegaskan bahwa reaktivasi ARFTC merupakan wujud kontinuitas komitmen Jakarta untuk terus berjalan beriringan dengan Gambia dalam membagikan basis pengetahuan kemandirian pangan yang berdampak jangka panjang bagi generasi mendatang. Untuk memperluas magnitudo kemaslahatannya, Indonesia kini tengah menjajaki diversifikasi kemitraan dengan negara donor dan mitra pembangunan global lainnya melalui skema Kerja Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular. Formulasi multilateral ini diproyeksikan untuk menggaet program kerja sama internasional yang lebih luas guna menyelenggarakan diklat agrikultur bagi negara-negara di daratan Afrika. Otoritas diplomasi Indonesia membidik ARFTC Jenoi agar dapat bertransformasi menjadi pusat unggulan regional (center of excellence) yang mengintegrasikan inovasi teknologi tani, pematangan sumber daya manusia, dan stabilitas pasokan pangan regional. Arrmanatha mengibaratkan bahwa jalinan persahabatan sejati antarkedua negara ibarat hasil panen terbaik, yang menuntut adanya konsistensi pemeliharaan, pemupukan, serta aksi nyata yang dirawat bersama secara berkelanjutan.
Menilik rekam jejak historisnya, institusi pelatihan agrikultur ini bukanlah entitas baru dalam portofolio kerja sama bilateral kedua negara. ARFTC pertama kali didirikan pada tahun 1996 silam atas inisiasi tripartit yang mengawinkan peran Pemerintah Indonesia, Yayasan Amal Masyarakat Pertanian Indonesia (YAMPI), serta Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO). Sejak pertama kali mengepakkan sayap operasionalnya, pusat diklat ini tercatat telah mendistribusikan ilmu mekanisasi dan budidaya terapan kepada lebih dari 6.000 petani serta tenaga penyuluh lapangan. Dampak edukasinya pun tidak hanya dirasakan oleh internal sektor domestik Gambia saja, melainkan telah melintasi batas yurisdiksi melayani negara-negara tetangga di sub-kawasan Afrika Barat seperti Guinea, Liberia, Mali, hingga Senegal. Melalui babak baru reaktivasi ini, Indonesia memantapkan posisinya sebagai mitra strategis yang andal bagi akselerasi pembangunan berkelanjutan di belahan bumi selatan.





































