Reduksi Kecemasan Transisi Siswa Baru, SDI Ramah Anak Kemas MPLS Interaktif Lewat Parade Kostum Tematik

DEPOK (14/07/2026) – Atmosfer keceriaan menyelimuti fase awal tahun ajaran baru di salah satu institusi pendidikan dasar swasta yang mengedepankan konsep ramah anak. Guna mengikis ketegangan psikologis yang kerap dialami siswa baru saat memasuki lingkungan sekolah, para pendidik di Sekolah Dasar Islam (SDI) Ramah Anak mengambil langkah kreatif dengan mengenakan pelbagai kostum satwa dan profesi selama masa orientasi. Aksi teatrikal yang memikat perhatian ini sengaja dirancang untuk menyemarakkan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sekaligus menerjemahkan petunjuk teknis (juknis) formal terkait kampanye sekolah menyenangkan yang diamanatkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Kepala SDI Ramah Anak, Siti Komalasari, mengonfirmasi bahwa parade busana unik ini diaplikasikan secara bertahap selama dua hari perdana masuk sekolah. Saat dimintai keterangan pada Selasa, 14 Juli 2026, Siti merinci bahwa pada hari pertama, para guru dari pelbagai jenjang menyambut kedatangan siswa dengan mengenakan kostum satwa jenaka, seperti lebah dan jerapah, sementara pada hari kedua, suasana ruang kelas dihiasi oleh visualisasi ragam kostum profesi masa depan. Selain menghadirkan stimulus visual yang menghibur, manajemen sekolah juga memanfaatkan pekan perdana MPLS untuk mengenalkan ekosistem belajar secara komprehensif, mulai dari tur fasilitas sekolah, parade unjuk kebolehan ekstrakurikuler, hingga pemetaan potensi akademis dan nonakademis siswa lewat skema asesmen diagnostik yang terukur.

Paralel dengan pengenalan fisik sekolah, isu perlindungan anak juga menjadi materi prioritas yang diinternalisasikan sejak dini di mana seluruh siswa dari kelas satu hingga enam dibekali edukasi preventif mengenai bahaya perundungan fisik, verbal, hingga ancaman cyberbullying. Kampanye antikekerasan ini nantinya akan dikunci melalui deklarasi komitmen bersama seluruh peserta didik untuk menolak segala bentuk penindasan demi memupuk kultur saling menghargai di lingkungan sekolah sejak hari pertama. Mengingat institusi ini menerapkan sistem belajar sehari penuh (full day school), manajemen menerapkan masa adaptasi jam belajar secara bertahap khusus bagi siswa kelas satu, yang dimulai dari kepulangan pukul 10.00 WIB pada pekan pertama, dilanjutkan hingga pukul 12.00 WIB pada pekan kedua, sebelum akhirnya diberlakukan jadwal belajar penuh pada pekan ketiga. Pendekatan persuasif melalui permainan kelompok, diskusi interaktif, serta penyusunan kesepakatan aturan kelas bersama ini terbukti ampuh memicu antusiasme tinggi anak-anak untuk bersekolah tanpa menyisakan trauma transisi akademik.

Komentar

komentar

BAGIKAN