Sapa Panggung Wastra di Bulan Bung Karno, Kebaya Kolase Batik Depok Rajut Narasi Perjuangan Fatmawati

DEPOK (11/07/2026) – Eksplorasi industri mode berbasis kearifan lokal asal Kota Belimbing sukses mencuri perhatian dalam panggung kebudayaan regional. Memanfaatkan momentum peringatan Bulan Bung Karno di Kota Bandung pada 7 Juli 2026 lalu, desainer kreatif asal Kecamatan Sukmajaya, Liana Dewi, berhasil memboyong mahakarya busana kebaya bermotif batik khas Depok untuk melenggang dalam peragaan busana prestisius yang menjadi rangkaian acara Bedah Buku Fatmawati dan Fatmawati Trophy. Keikutsertaan ini dinilai bukan sekadar unjuk gigi estetika visual di atas landasan peraga, melainkan sebuah misi kebudayaan terstruktur guna menggaungkan identitas daerah sekaligus merevitalisasi nilai-nilai sejarah perjuangan nasional ke dalam estetika busana modern yang relevan bagi lintas generasi.

Saat dimintai keterangan pada Sabtu, 11 Juli 2026, Liana mengungkapkan rasa bangga yang mendalam atas mandat seni untuk merepresentasikan Kota Depok di panggung luar daerah. Rancangannya kali ini secara filosofis menyerap rekam jejak historis Ibu Fatmawati selaku tokoh penjahit Sang Saka Merah Putih yang menyimbolkan keteguhan, keberanian, serta totalitas pengabdian pada negara. Manifestasi karakter tersebut dituangkan Liana lewat inovasi teknik kolase batik khas Depok yang dipadukan secara presisi dengan aksen bordir di atas material kain polos. Keanggunan busana ini kian diperkuat dengan sematan aplikasi rangkaian bunga berornamen payet mewah yang memberikan impresi anggun tanpa sedikit pun menenggelamkan marwah motif batik lokal sebagai jangkar identitas utamanya. Bagi Liana, kebaya bertindak sebagai media literasi bergerak yang ampuh untuk memicu rasa kepemilikan masyarakat terhadap wastra nusantara, baik dalam spektrum aktivitas formal maupun kasual.

Optimisme Liana terhadap masa depan industri kreatif ini ditopang oleh ekosistem fesyen Kota Depok yang dinilai kian matang berkat stimulus program Pemerintah Kota yang konsisten menggulirkan pelatihan pola jahit, teknik desain, hingga strategi penguatan branding. Sebagai wujud komitmen regenerasi, Liana bahkan mendirikan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) serta Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) LINAD sebagai wadah inkubasi untuk mencetak barisan perancang busana muda yang siap bersaing. Gerakan berbasis kreativitas ini pun menuai dukungan penuh dari Wakil Ketua DPRD Kota Depok, Yuni Indriany, yang menilai perpaduan bedah literasi sejarah dengan peragaan busana merupakan formulasi edukasi yang sangat efektif bagi generasi muda. Otoritas legislatif menekankan bahwa kehadiran perancang busana Depok di ajang berskala besar menjadi bukti nyata bahwa daya cipta daerah mampu bertindak sebagai instrumen penjaga memori kolektif bangsa, sekaligus memastikan spirit perjuangan tokoh nasional tetap hidup dan berakar kuat dalam karya nyata generasi penerus.

Komentar

komentar

BAGIKAN