DEPOK (02/06/2026) – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menegaskan komitmennya dalam menerapkan sistem meritokrasi murni pada tata kelola birokrasi daerah. Wali Kota Depok, Supian Suri, menyatakan bahwa proyeksi masa depan dan eskalasi karier Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkot Depok kini sepenuhnya digantungkan pada indikator kompetensi, rekam jejak kinerja, serta integritas individu, bukan faktor subjektif.
Arahan strategis tersebut disampaikan langsung di hadapan 105 ASN rekrutan formasi tahun 2024 yang baru saja menyelesaikan prosesi pengambilan sumpah jabatan di Aula Teratai, Gedung Balai Kota Depok, Selasa (02/06).
Introduksi Metode ‘9 Box Matrix’ dalam Manajemen Talenta
Dalam sesi pembinaan tersebut, Supian Suri memperkenalkan draf instrumen penilaian mutakhir berupa pemetaan kompetensi ASN yang mengadopsi model sembilan kategori atau dikenal dengan istilah “9 Box Matrix”. Matriks ini mengombinasikan variabel potensi individu dan performa kerja sebagai basis data utama penentu kebijakan mutasi, rotasi, maupun promosi jabatan struktural.
Posisi seorang aparatur di dalam sistem klasterisasi tersebut akan menjadi rujukan mutlak bagi Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) untuk merancang arah karier pegawai yang bersangkutan.
“Melalui pemetaan ini, posisi kawan-kawan akan terlihat secara transparan berada di box berapa. Ini bukan sekadar instrumen penilaian formalitas, melainkan draf penentu ke mana arah karier Anda melangkah ke depan,” tegas Supian Suri.
Otoritas eksekutif menambahkan, bagi ASN yang membidik akselerasi karier atau perluasan ruang pengabdian, wajib menunjukkan kesungguhan dalam meng-upgrade pengetahuan teknis, menjaga integritas, serta mendemonstrasikan dedikasi penuh yang akan terekam secara otomatis dalam sistem penilaian digital pemerintah.
Peluang Penetrasi ke Level Provinsi dan Kementerian
Supian Suri memaparkan bahwa dengan sistem manajemen talenta (talent management system) yang kian terintegrasi secara vertikal, ruang gerak karier ASN daerah kini tidak lagi terisolasi di tingkat kota madya.
Aparatur yang memiliki kualifikasi mumpuni dan menempati kasta box tertinggi berpeluang besar dipromosikan untuk mengisi jabatan-jabatan strategis di struktur eksternal, seperti:
-
Pemerintah Provinsi Jawa Barat
-
Kementerian / Lembaga Negara di Tingkat Pusat
“Jalur vertikal itu kini terbuka sangat lebar. Kompetensi serta posisi taktis Anda di dalam matriks box tersebut yang akan menjadi tiket penentu untuk dilirik oleh instansi yang lebih tinggi,” jelasnya.
Dua Pilar Utama Keberhasilan Pelayanan Publik:
Kolektivitas Tim: Menolak ego sektoral dan mendorong ASN untuk membangun jejaring silaturahmi yang kuat. Konsolidasi 105 ASN baru ini dinilai sudah menjadi modal kekuatan besar bagi masa depan Depok.
Sinergi Antar-OPD: Memangkas sekat birokrasi guna mempermudah jalur koordinasi horizontal antar-Organisasi Perangkat Daerah demi mendongkrak mutu pelayanan publik.
Doktrin Paricara Dharma: Tangguh Hadapi Heterogenitas Warga
Menutup agenda pembinaan, Wali Kota Depok menanamkan kembali doktrin fundamental jati diri ASN sebagai pelayan masyarakat sipil. Supian Suri mendesak seluruh aparatur baru untuk menjadikan nilai luhur “Paricara Dharma” (mengabdi demi kebaikan masyarakat) sebagai kompas moral dalam menunaikan tugas kedinasan di lapangan.
“Apapun dinamika dan tekanan situasi di lapangan, ingatlah bahwa fungsi hakiki kita adalah pelayan publik. Heterogenitas karakter masyarakat Depok hari ini tidak boleh dijadikan beban, melainkan tantangan profesi yang wajib kita hadapi dan layani secara totalitas serta sepenuh hati,” pungkas Supian Suri.





































