Sabet Gelar Juara Kedua Face of Indonesia 2026, Model Cilik Asal Depok Bersiap Menuju Panggung Internasional di Korea Selatan

DEPOK (30/06/2026) – Potensi talenta muda asal Kota Belimbing kembali menorehkan tinta emas di kancah industri kreatif nasional. Aqueensa Kinara, seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) berusia 12 tahun, sukses mencuri perhatian publik setelah berhasil mengamankan podium juara kedua dalam ajang pencarian bakat modeling bergengsi, Face of Indonesia 2026. Capaian impresif tersebut tidak hanya menasbihkan namanya sebagai salah satu calon bintang baru di dunia adibusana, melainkan juga menggaransi tiket resmi bagi dirinya untuk melangkah sebagai delegasi tunggal yang mewakili Indonesia dalam kontestasi internasional Face of Asia 2026 yang akan dihelat di Korea Selatan.

Ditemui usai pengumuman pemenang pada Senin, 29 Juni 2026 lalu, Kinara mengutarakan rasa tidak percaya sekaligus syukurnya atas pencapaian luar biasa yang menjadi lompatan besar dalam lembaran hidupnya. Bagi remaja belia ini, panggung kompetisi tersebut bukan sekadar arena unjuk keluwesan fisik di atas lintasan peraga (runway), melainkan sebuah inkubator esensial yang menuntut pembuktian karakter, kedisiplinan yang ketat, serta kualitas intelektual generasi muda. Ia menguraikan bahwa profesi model modern menuntut adanya sinergi antara aspek estetika visual dengan ketangguhan mentalitas, profesionalisme kerja yang tinggi, serta kapabilitas untuk menyebarkan pengaruh sosiologis yang positif kepada khalayak luas.

Ketertarikan mendalam Kinara pada industri fesyen rupanya telah berakar sejak masa kanak-kanak, yang kemudian dikonversi menjadi determinasi kuat untuk terus mengasah kecakapan teknis melalui berbagai pelatihan berjenjang, mulai dari olah tubuh catwalk hingga penguatan mental panggung. Keputusannya untuk terjun dalam Face of Indonesia 2026 diakui sebagai langkah berani untuk menguji kapasitas dirinya ke level yang lebih kompetitif. Fondasi kepercayaan diri tersebut diakui lahir dari suntikan dukungan moral yang solid dari lingkungan domestik, di mana ia menempatkan kedua orang tuanya sebagai pilar kekuatan utama yang konsisten mengawal stabilitas emosionalnya di balik gemerlapnya sorot lampu lampu panggung.

Sepanjang bergulirnya karantina dan malam puncak, Kinara sukses memukau dewan juri melalui pelbagai indikator penilaian, termasuk ketangkasannya dalam merepresentasikan kekayaan kultural melalui busana tradisional. Salah satu performa paling monumental yang disuguhkannya adalah saat ia dengan anggun membawakan pakaian adat Dayak khas Kalimantan, sebuah keputusan berani yang sengaja diambilnya demi menonjolkan keunikan karakter dan distingsi budaya Nusantara di mata publik. Menatap tantangan di fase global yang dipastikan menerapkan standardisasi kompetisi yang jauh lebih tinggi, Kinara kini tengah memperketat porsi persiapannya, baik dari segi pematangan keahlian teknis maupun pengelolaan regulasi mentalitas bertanding.

Gayung bersambut, sang ayah, Dadang Wihana, menegaskan komitmen penuh keluarga besar untuk memfasilitasi dan mengawal restu atas peta jalan karier yang dipilih oleh putrinya. Dadang memproyeksikan bahwa partisipasi Kinara di panggung internasional tidak hanya bernilai sebagai pencapaian personal semata, melainkan mengemban misi diplomasi budaya untuk memperkenalkan mahakarya para perancang busana (desainer) lokal ke pasar global. Otoritas keluarga memandang sektor mode bukan lagi sekadar urusan gaya berbusana temporer, melainkan manifestasi dari kreativitas komersial sekaligus bagian integral dari pembentukan jati diri serta identitas nasional di kancah internasional.

Komentar

komentar

BAGIKAN