Depok (16/04/2026) – Kerinduan warga akan tradisi asli leluhur Depok bakal segera terobati. Perhelatan tahunan Lebaran Depok 2026 resmi dijadwalkan berlangsung pada 5–9 Mei 2026. Perayaan kali ini diprediksi akan jauh lebih semarak karena dirancang bersamaan dengan momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kota Depok.
Ketua Panitia Lebaran Depok 2026, Hamzah, menjelaskan bahwa ajang ini bukan sekadar festival biasa, melainkan upaya preservasi budaya agar identitas asli warga Depok tidak tergerus zaman.
Tradisi Serentak di Tiga Wilayah
Satu hal yang membedakan penyelenggaraan tahun ini adalah strategi pemerataan kemeriahan. Jika tahun sebelumnya agenda ikonik “Ngubek Empang” hanya terpusat di satu titik, kini kegiatan tersebut akan digelar secara serentak di tiga zona strategis guna menjangkau seluruh warga.
-
Wilayah Timur (Tapos): Akan dibuka langsung oleh Wali Kota Depok, Supian Suri.
-
Wilayah Tengah (Cipayung): Dihadiri oleh Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah.
-
Wilayah Barat (Sawangan): Dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Depok, Mangnguluang Mansur.
“Tujuannya agar euforia Lebaran Depok bisa dirasakan merata oleh seluruh warga, dari timur hingga barat,” ujar Hamzah, yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi B DPRD Kota Depok, Rabu (15/04/26).
Nostalgia Kesibukan “Wong Depok” Jelang Idulfitri
Melalui Lebaran Depok, panitia ingin merekonstruksi betapa sibuk dan guyubnya warga Depok zaman dulu dalam mempersiapkan hari kemenangan. Hamzah merinci rangkaian filosofi tradisi yang akan ditampilkan:
-
Ngubek Empang & Ngaduk Dodol (5 Mei): Menggambarkan sukacita memanen hasil alam (ikan) dan gotong royong memasak kudapan khas.
-
Nyuci Perabotan & Budaya Nusantara (6 Mei): Berpusat di Alun-Alun GDC, menunjukkan tradisi kebersihan rumah tangga dan keragaman seni.
-
Motong Kebo Andilan (7 Mei): Rekonstruksi sistem “patungan” warga zaman dulu untuk membeli kerbau agar semua lapisan masyarakat bisa menikmati daging saat Lebaran.
-
Nyedengin Baju & Pasar Pengabisan: Menghadirkan kembali suasana pasar malam legendaris yang menjual pakaian dan penganan jadul seperti geplak, uli, hingga selendang mayang dengan harga terjangkau.
Puncak Tradisi: Budaya Rantangan
Sebagai penutup dari seluruh rangkaian prosesi, tradisi Rantangan akan menjadi inti dari nilai sosial yang ingin disampaikan. Hasil dari panen ikan, masakan daging kerbau, dan dodol akan dikemas dalam rantang untuk diantarkan kepada orang tua atau sesepuh.
“Puncaknya adalah Rantangan. Ini adalah simbol penghormatan dan kasih sayang kepada yang lebih tua, di mana hasil jerih payah persiapan Lebaran dibagikan kepada keluarga besar,” tambah Hamzah.
Selain menampilkan atraksi budaya, event ini juga akan diperkuat dengan Bazar UMKM yang memprioritaskan produk lokal Depok. Hamzah berharap, selain menjadi ajang pelestarian budaya, Lebaran Depok 2026 dapat menjadi motor penggerak ekonomi kreatif bagi warga sekitar.
“Jangan sampai budaya kita hilang. Mari kita tunjukkan bahwa Depok memiliki kekayaan tradisi yang unik dan tetap relevan di masa kini,” pungkasnya.








































